Translate

Friday, 19 April 2013

Fungsi Media Massa


MEDIA MASSA
KEGUNAAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN
Selain untuk menyajikan pesan, sebenarnya ada beberapa fungsi lain yang dapat dilakukan oleh media. Namun jarang sekali ditemukan seluruh fungsi tersebut dipenuhi oleh media komunikasi dalam suatu sistem pembelajaran. Sebaliknya suatu program media tunggal seringkali dapat mencakup beberapa fungsi sekaligus secara simultan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:
1. Memberikan pcngetahuan tentang tujuan belajar
Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan yang akan diperolehmya atau ketrampilan yang akan dipelajarinya. Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan pelajaran dan tingkat kesulitan yang diharapkan. Untuk pembelajaran dalam kawasan perilaku psikomotor atau kognitif, media visual khususnya yang menampilkan gerak dapat mempertunjukkan kinerja (performance) yang harus dipelajari siswa. Dengan demikian dapat menjadi model perilaku yang diharapkan dapat dipertunjukkannya pada akhir pembelajaran.
2. Memotivasi siswa
Salah satu peran yang umum dari media komunikasi adalah memotivasi siswa. Tanpa motivasi, sangat mungkin pembelajaran tidak menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa seringkali dilakukan dengan menggambarkan sejelas mangkin keadaan di masa depan, dimana siswa perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Jika siswa menjadi yakin tentang relevansi pembelajaran dengan kebutuhannya di masa depan, ia akan termotivasi mengikuti pembelajaran. Media yang sesuai untuk menggambarkan keadaan masa depan adalah media yang dapat menunjukkan sesuatu atau menceritakan (tell) hal aersebut. Bila teknik bermain peran digunakan (seperti lawak atau drama), pengalaman yang dirasakan siswa akan lebih kuat. Film juga seringkali diproduksi dan digunakan untuk tujuan motivasi dengan cara yang lebih alami.
3. Menyajikan informasi
Dalam sistem pembelajaran yang besar yang terdiri dari beberapa kelompok tantangan ? kurikulum yang sama, media seperti film dan televisi dapat digunakan untuk menyajikan informasi. Guru kelas bebas dari tugas mempersiapkan dan menyajikan pelajaran, ia dapat menggunakan energinya kepada fungsi-fungsi yang lain seperti merencanakan kegiatan siswa, mendiagnosa masalah siswa, memberikan konseling secara individual. Ada tiga jenis variasi penyajian informasi:
(a)penyajian dasar (basic), membawa siswa kepada pengenalan pertama terhadap materi pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, kegiatan siswa atau review oleh guru kelas; (b) penyajian pelengkap (supplementary), setelah penyajian dasar dilakukan oleh guru kelas, media digunakan untuk membawa sumber-sumber tambahan ke dalarn kelas, melakukan apa yang tidak dapat dilakukan di kelas dengan cara apapun. (c) penyajian pengayaan (enrichment), merupakan informasi yang tidak merupakan bagian dari tujuan pembelajaran, didiadakan karena memiliki nilai motivasi dan dapat mencapai perubahan sikap dalam diri siswa.
4. Merangsang diskusi
Kegunaan media untuk merangsang diskusi seringkali disebut sebagai papan loncat, diambil dari bentuk penyajian yang relatif singkat kepada sekelompok siswa dan dilanjutkan dengan diskusi. Format media biasanya menyajikan masalah atau pertanyaan, seringkali melalui drama atau contoh pengalaman manusia yang spesifik. Penyajian dibiarkan terbuka (open-end), tidak ada penarikan kesimpulan atau saran pemecahan masalah. Kesimpulan atau jawaban diharapkan muncul dari siswa sendiri dalam interaksinya dengan pemimpin atau dengan sesamanya. Penyajian media diharapkan dapat merangsang pemikiran, membuka masalah, menyajikan latar belakang informasi dan memberikan fokus diskusi.
5. Mengarahkan kegiatan siswa
Pengarahan kegiatan merupakan penerapan dari metode pembelajaran yang disebut metode kinerja (performance) atau metode penerapan (application). Penekanan dari metode ini adalah pada kegiatan melakukan (doing). Media dapat digunakan secara singkat atau sebentar - sebentar untuk mengajak siswa mulai dan berhenti. Dengan kata lain program media digunakan untuk mengarahkan siswa dilakukan kegiatan langkah demi langkah (step-by-step). Pcnyajian bervariasi, mulai dari pembelajaran sederhana untuk kegiatan siswa, seperti tugas pekerjaan rumah sampai pengarahan langkah demi langkah untuk percobaan laboratorium yang kompleks. Permainan merupakan metode pembelajaran yang sangat disukai khususnya bagi siswa sekolah menengah, memiliki nilai motivasional yang tinggi, melibatkan siswa lebih baik daripada metode pembelajaran yang lain.
6. Pelaksanakan latihan dan ulangan
Dalam belajar ketrampilan, apakah itu bersifat kognitif atau psikomotor pengulangan respon-respon dianggap sangat penting untuk kemajuan kecepatan dan tingkat kemahiran. Istilah “drill” digunakan untuk jenis respon yang lebih sederhana seperti menterjemahkan kata-kata asing atau mengucapkan kata-kata asing. “practice” biasanya berhubungan dengan kegiatan yang lebih kompleks yang membutuhkan koordinasi dari beberapa ketrampilan dan biasanya merupakan penerapan pengetahuan, misalnya latihan olah raga tim atau individual, memecahkan berbagai bentuk masalah. Penyajian latihan adalah proses mekanis murni dan dapat dilakukan dengan sabar dan tak kenal lelah oleh media komunikasi, khususnya oleh media yang dikelola komputer. Laboratorium bahasa juga salah satu contoh media yang digunakan untuk pengulangan dan latihan.
7. Menguatkan belajar
Penguatan seringkali disamakan dengan motivasi, atau digolongkan dalam motivasi. Penguatan adalah kepuasan yang dihasilkan dari belajar, dimana cenderung meningkatkan kemungkinan siswa merespon dengan tingkah laku yang diharapkan, setelah diberikan stimulus. Penguatan paling efektif diberikan beberapa saat setelah respon diberikan. Karena itu harus terintegrasi dengan fungsi rnedia yang membangkitkan respon siswa, seperti fungsi 3,4,5,6,8. Jenis penguatan yang umum digunakan adalah pengetahuan tentang hasil (knowledge of results). Suatu program media menyajikan pertanyaan kepada siswa, kemudian siswa menyusun jawabannya atau memilih dari beberapa kemungkinan jawaban. Setelah siswa menentukan jawabannya, ia sangat termotivasi untuk segera mengetahui jawaban yang benar. Jika siswa mengetahui bahwa jawabannya benar, maka ia dikuatkan. Bahkan jika siswa tahu jawabannya salah, namun jika ditunjukkan seberapa dekat jawabannya mendekati kebenaran, maka hal tersebut juga merupakan penguatan. Media apapun yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi juga mampu menyajikan pertanyaan dan merangsang siswa untuk menjawab. Media apapun yang mampu melakukan fungsi ini, ia juga dirancang untuk memberikan jawaban benar terhadap pertanyaan kognitif, segera setelah siswa diberi kesempatan menjawab, sehingga dimungkinkan untuk membandingkan dan memperoleh pengetahuan tentang hasil sesegera mungkin.
8. Memberikan pengalaman simulasi
Simulator adalah alat untuk menciptakan lingkungan buatan yang secara realistis dapat merangsang siswa dan bereaksi terhadap responnya sendiri, sehingga dapat melatih perilaku kompleks yang membutuhkan lingkungan khusus. Contoh yng sering ditemui adalah simulator mobil yang digunakan untuk latihan mengendarai mobil dan simulator pesawat yang digunakan untuk pelatihan pilot. Instruktur biasanya menjadi bagian dari sistem, memberikan penilaian segera dan menyelipkan kerusakan pada sistem untuk memberikan siswa latihan mengatasi masalah. Media komunikasi seringkali memegang peranan penting dalam simulasi, mulai dari mengolah respon/informasi yang diberikan siswa, sampai kepada memberikan informasi tentang pencapaian siswa dalam sistem simulasi. Pada beberapa kasus pelatihan dengan simulator, seperti peralatan terbang, informasi/respon yang diberikan siswa dimasukkan dengan gerakan, tekanan, tombol dan sebagainya. Keluaran dapat berupa pertunjukan dengan alat tertentu atau sensasi gerakan (kinestetic sensations) berupa gerakan pesawat. Simulator tidak terbatas pada sistem yang konkrit dan lengkap seperti simulasi pesawat atau mobil, tetapi dapat diaplikasikan pada sistem yang lebih abstrak seperti ekonomi nasional dari negara kuno, pembiayaan sistem sekolah atau fungsi kedutaan dalam membantu negara kecil seperti Afrika. program komputer dapat memungkinkan simulasi sistem yang kompleks, sipenerima masukan dari siswa, menghitung hasil dan menginformasikan kepada siswa melalui media komunikasi tentang perubahan yang dilakukan dalam sistem. Jenis lain dari simulasi adalah permainan (game), mensimulasikan sistem yang kompetitif dengan dua atau lebih siswa atau kelompok belajar berinteraksi satu sama lain. Karena sangat mirip dengan simulator yang dapat merefleksikan kenyataan, permainan dapat mengembangkan respon yang siap ditransfer ke dunia yang sebenarnya. Bermain peran (role playing) juga meruapakan bagian dari teknik simulasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan ketrampilan tentang hubungan antar manusia. Media, biasanya film, video digunakan untuk merekam suatu pertemuan antara siswa dan seseorang yang mensimulasikan kehidupan nyata, atau orang yang telah dilatih untuk berinteraksi dengan siswa. Misalnya simulasi perang untuk melatih teknik interogasi, pelamar pekerjaan, siswa atau pasien psikiatri untuk melatih teknik interview/wawancara, dan sebagainya.

Kenangan Pesta Konvokesyen USM 2012

Iban Suku Bansa Ti Siti ( Homogenik)


Iban tu suku bansa ka siti tauka homogenik. Bansa Iban nadai bebagi etnik semina bisi bida ba dialek.  Nya alai anang saru nadai Iban etnik Saribas, etnik Kalimantan, etnik Skrang tauka etnik Batang Lupar. Ari segi jaku, aku Iban tau dikumbai universal laban sebaka ba semua menua.  Enda ngira iya di Sarawak, di Sabah, di Brunei, di Semenanjung tauka di Kalimantan, Indonesia jaku Iban enda sebaka, lalu mina bisi bida ari jalai sebut enggau sekeda nama jelu, kayu, buah enggau sekeda nama utai bukai. Reti nya dalam jaku ribai, jaku kitai Iban tu ‘universal’ laban semua orang ke bejaku tauka bekomunikasi enggau jaku Iban endang sama mereti utai ti dikejakuka pangan diri nya.
Iban ari Temburong, Brunei mereti nama utai ku Iban ari Layar di Betong tauka nama utai ke dipadah Iban ari Anap di Bintulu. Reti nya enda ngira ari dini asal penatai semua kitai Iban endang mereti utai ku pangan. “Bida jaku kitai nya mina dalam bunyi sebut iya, laban nya nitihka penatai kitai, ari ai siti-siti tang kitai nadai mayuh bida dalam jaku enggau nama kena kitai nganu utai siti-siti.
“Ambika banding, kami di Saratok enggau Betong ngena jaku ‘nuan’ tang bala di Sibu enggau ai Batang Rajang enggau sekeda menua bukai ngena jaku ‘dek’ lalu bala di Kuching enggau sida ari Lundu bisi nya jaku ‘kua’,” pia ku siku bekau pemesai ba opis betanam betupi ke mega kala nyadi Chermin Pepper Marketing Board Datu Henry Jantum Bakit lebuh berandau enggau Berita Iban apin lama. Jantum ke berasal ari Nanga Luau, Saratok diatu diau mendam di Kuching.
Endang amat munyi ku Jantum nya, bala Iban ari Temburong tauka di Tutong enggau Belait di Brunei ke mayuh berasal ari menua Layar enggau Krian di Sarawak endang nadai bida jaku baka kitai di menua tu. Berita Iban ngelamatu bisi dikempelin orang laban jalai sebut bisi kasar mimit. Pengarang enda mereti ba senentang ni jaku nya bisi kasar.
Ba jalai nyepil tauka ba jalai bukai? Ambika penemu pemacha mayuh Berita Iban kenyau ari pun endang ngena sistem sepil ti stindit ke mega lalu ditunda ulih sida ba Opis Pelajar lebuh berengkah ngena Sistem Jaku Iban ba kurikulum sida dalam kelas berengkah ari taun 2007 suba. Ka tambah nya, sepil dikena Berita Iban mega nitihka sanding penemu bala sida ari Jugah Foundation.
Pelaba pengarang reti jaku kasar nitihha kempelin – pengarang nadai ninga kempelin nya ari pending pengarang empu tang mina ninga padah ari bala sama gawa ke bukai – engka laban pemacha ke ngempelin nya ari ai bukai kelimpah ari Krian tauka Saribas.
Kebuah pia, sebut ari menua Krian enggau ai Saribas enda sebaka enggau sida ari Batang Rajang, Kemena tauka Batang Baram.
Ambika banding, nitih sepil dulu suba, ‘jaku’ disepil ngena ‘jako’ lalu pia mega ‘tulung’ disepil ngena ‘tulong’ laban nya nitihka sebut orang terubah mungkal sepil nya kelia baka sida niang Gerunsin Lembat (Tan Sri Datuk), niang Michael Buma (Datuk) tauka niang Benedict Sandin enggau bala sida bukai.
Sistem sepil kelia engka ari setuju semua sida, tang nadai tentu sistem ke nyemetak.
Enti kitai macha dalam mayuh bup cherita Iban ke bisi baka ke ditulis ari mayuh penulis nyengkaum Benedict Sandin, Alli Majang, Edward Kechendai, George Garai, Thomas Bangit, Lawrence Senoun Ijau, Henry Gerijih, George Jimbai, Andrea Ijau, Joshua Jali, Jimbun Tawai, Janang Ensiring, Jimmy Donald sereta enggau mayuh penulis bukai, dia kitai meda sistem sepil kena sida pan nadai sebaka tang jaku Iban kena sida nadai bida ari pangan diri.
Mina ke bisi nyelaie mimit nya enggi Jimmy Donald laban nya jaku Iban Balau ke endang batang jaku bala kitai Iban di menua Sri Aman ke mega semak bendar enggau jaku Iban bala sida Dayak Kantu ari menua Kalimantan.
Ngerichau mimit ngenang jaku sida Kantu ari Kalimantan, sida enda ngena ‘selamat datai’, laban kebendar iya jaku ‘selamat’ tu asal jaku Melayu. Sida ngena jaku ‘gaga amat temuai datai’ ba pintu kuta tama ngagai rumah panjai sida.
Bala sida Kantu mega agi ngena jaku ‘begerangi’ ke jarang dikena laban kitai diatu ngena jaku ‘begagai’ tauka ‘bebuti’ enggau pangan.
Jaku ‘berami’ kitai ditukar sida ngagai ‘beramai’ lalu jaku ‘ukai’ sida kena jaku ‘bukai’ ti deka sama semunyi enggau ‘bukan’ dalam jaku Melayu ti sama reti mega.
Nya alai enti kitai bejaku enggau sida Iban, sida Kantu, sida Maloh ari menua Kalimantan kitai nadai penanggul bekomunikasi enggau sida laban kitai endang sama ngena jaku Iban, lalu sama mereti utai ku pangan taja pan jalai sebut kitai enda semunyi, enda sebaka.
Ketuai pengarang Berita Iban angkun bendar ati laban bisi awak ngerembaika pengena jaku Iban belalauka jaku Iban stindit ti dipelajar di sekula kenyau ari taun 2007 suba.
Diatu bala kitai Iban patut temegah ati laban Jaku Iban udah diajar ba 48 buah sekula sekonderi serata menua Sarawak ngagai nembiak ke belajar ba Pom Empat enggau Pom Lima berengkah ari taun nya.
Kena 1 Disember, 2006 suba Sapit Kepala Menteri Datuk Patinggi Tan Sri Alfred Jabu ak Numpang udah diberi basa bejadika atur pengawa nyain sempekat pemetul enggau pengena jaku ‘Deklarasi Sistem Jaku Iban Di Sekula ba hotel Crowne Plaza Riverside di Kuching ditu.
Dulu ari tu, ku Jabu, pelajar Jaku Iban sigi udah diajar ba sekula sekonderi, tang mina naka tikas Pom Tiga aja.
Bisi lebih sepuluh taun ti udah tu, pelajar nya diajar ba sekeda sekula sekonderi menua tu.
Taja pia, ukai semua sekula bisi ngajar nya.
Ku Jabu, ke nyadi Menteri Pemansang Infrastruktur enggau Penyambung sereta mega nyadi Menteri Pemansang Pesisir mata pelajar Jaku Iban tu ukai enda tau enda dambi, ukai kompulsri.
“Dalam 48 buah sekula nya, bisi 144 iku pengajar enggau 1,440 iku nembiak deka ngambi pelajar Jaku Iban tu,” ku Jabu lebuh bejaku maya nya.
Jabu madah, semua atur baru tetap deka bisi penanggul, tang bala kaban komiti kereja nya deka seruran betatika sistem lalu nginsit pemanah iya mimit-mimit sampaika iya nyadi chukup ngena sereta manah.
Siku ari kaban Komiti Pengatur pengajar Christie Duin Tanggi, siku pengajar bisi degree ke diatu ngajar ba SMK Jalan Arang, ditu madah, sida lama bendar udah selalu bekelikuh pasal pengena jaku nya.
Kebuah pia laban mayuh sistem nyepil jaku Iban nitihka sebut ari menua siti-siti.
Ku iya, diatu udah bisi 20 iku pengajar ke udah bempu diploma dalam pelajar jaku nya, lalu sida tu meh ti udah dipilih asuh mungkal ngajar mata pelajar nya.
“Sekeda pengajar ti udah bisi latih ngajar jaku (nyengkaum pelajar jaku bansa bukai), ulih mega diasuh ngajar Jaku Iban, laban sida udah bisi pengelandik ngajar siti-siti jaku,” ku iya.
Christie Duin empu siku ari pengajar ke udah nulis bup Iban pasal jaku sempama.
Manah bendar ga pelajar Jaku Iban nya laban beduduk ari nya bala nembiak ke ngambi nya, baik sida di Julau, di Saratok, di Limbang tauka di Kuching, sida tetap deka ngena sistem sepil ti sama lalu berengkah ari nya deka ngasuh sebut sida nadai jauh bida ari pangan.
Taja pia, siti utai ti ngasuh Berita Iban tekenyit nya pasal sekeda bala kitai Iban ba nengeri ke malu bejaku ngena jaku Iban laban enggaika ditemu orang bansa Iban.
Tu meh pekara ti balat ngasuh tekenyit, laban enda nemu kebuah malu ngumbai diri bansa Iban.
Nadai kebuah malu. Kitai Iban patut temegah ati enggau jaku kitai empu laban jaku meh ti nyadi tanda pengalala bansa Iban.
Jarang bansa di dunya ngembuan pengaya jaku bebanding enggau enggi kitai Iban.
Keba Professor Clifford Sather, bekau chair of Asian Studies ba Unimas, Kuching ditu kala madah kitai Iban ‘Master of Language’, reti nya chukup kaya sereta landik dalam jaku.
Kelimpah ari Sather, Professor Derek Freeman, siku anthropologist tebilang ari Australia – iya menya ngajar ba Australian National University (ANU) lalu nyadi mentor ka James Jemut Masing (diatu Dato Sri Dr James Jemut Masing) – ke mayuh nulis bup pasal raban bansa Iban, mega keran bendar madah kitai Iban siti bansa ti chukup kaya sereta landik dalam jaku enggau penemu asal.
Nitih ripot ari pemberita Utusan Borneo Edwin Raoh di Lubok Antu apin lama, Kaban Kunsil Nengeri sitak Bukit Begunan Mong Dagang munyi ke berupai enda lantang ati ninga sekeda bala kitai Iban enggai bejaku ngena jaku Iban lebuh betemu enggau diri sama diri di pasar tauka di nengeri.
Kebuah enggai, laban irauka orang mayuh ngelala sida nya bansa Iban.
Serimbai enggau nya, Mong nangi bendar, enti ulah nya (malu bejaku ngena jaku Iban enggau pangan diri ba nengeri) terus nyadi kemeran bala sekeda sida tu, nembiak rebak baru deka kelama-lama lenyau pengelala diri, nadai agi identiti bansa Iban laban enda nemu bejaku ngena jaku nya agi.
“Enti kitai Iban empu malu bejaku ngena jaku Iban enggau diri sama diri enda ngira di nengeri tauka sebarang alai endur, belabuh punas meh jaku kitai Iban ari diatu.
“Enti jaku punas, bansa pan punas ga.
“Nama penyadi kitai?” pia ku Mong sereta madah raban bansa Iban meh ke pengabis mayuh nguan menua Sarawak diatu bebanding enggau bansa bukai.
Nya alai, ku Mong nampung jaku iya, enti kitai enggi ngemeranka jaku kitai empu, bakani ku kitai ulih terus ngemeranka adat enggau main asal kitai Iban baka besanggai, beramban, bepantun, berenung, mengap enggau main benyawa ke bukai.
Taja pia, ku iya nadai salah bansa kitai bejaku ngena jaku bukai maya ke betemu enggau pangan diri tang enda tau enda ingatka jaku enggau identiti diri empu, ku Mong nambah nitih ripot ari Edwin nya.
Berita Iban ngarapka bala nembiak rebak baru diatu anang enda beratka jaku pesan ari Mong nya, lalu ngicha bala kitai ke bukai sama bela anang malu ka jaku diri empu, laban nya meh batang pengelala bansa. Enda ku jaku orang tuai, punas jaku, punas meh bansa.
Like this:
http://tusunterabai.wordpress.com/sekula-sera-guntin/jaku-iban-sigi-universal/






Ciri-ciri Kepimpinan


CIRI KEPIMPINAN
GURU DAN GAYA KEPIMPINAN EFFEKTIF
OLEH:RUZAIN SYUKUR B MANSOR
(B.A. Hons Pengajian Ilmu Wahyu UIAM, KPLI j-QAF IPTEKNIK)
www.akademipenulisbebas.wordpress.com

Guru adalah pendidik yang dikurniakan dengan pelbagai tanggungjawab.Pendidik di sekolah tidak hanya mengajar tetapi juga merupakan pemimpin.Secara sedar atau tidak sifat kepimpinan berkualiti bagi seorang guru di sekolah harus ditelusuri dan diperhalusi bagi mewujudkan iklim pendidikan yang mampu memacu kecemerlangan.

Pemimpin yang mempunyai sifat kepimpinan berhemah tinggi sentiasa dapat mewujudkan hubungan yang baik dengan kelompok yang dipimpin.Ibarat kepala memimpin badan begitulah perumpamaan yang diberikan kepada pemimpin bagi mencernakan ketokohan di dalam mengurus dan mengepalai sesebuah organisasi.Itulah jugalah corak kepimpinan yang sepatutnya ditunjukkan seorang pemimpin budiman .Maka di peringkat sekolah sudah tentulah guru besar yang dipertanggungjawabkan sebagai pemimpin kepada semua komuniti samada pendidik, pentadbir serta murid-murid.

Pemimpin berjiwa rakyat berpekerti mulia seharusnya didasari oleh himpunan ciri-ciri pekerti terpuji.Maka berikut diperincikan beberapa ciri terpenting yang harus wujud bagi setiap pemimpin hatta pendidik di sekolah.

Seorang pemimpin seharusnya beriman kepada Tuhan dan mempunyai kepercayaan dan kepatuhan kepada agama.Tidak kiralah samada guru besar atau pemimpin tersebut beragama Islam, Kristian, Hindhu ataupun Buddha, kepercayaan ini penting bagi memastikan mereka mempunyai pegangan dan dasar kepercayaan yang utuh.Bertitik tolak kepada kepercayaan kepada agama ini lah akan mencernakan peribadi terpuji selaras dengan agama yang dianuti.Manakala konsep etika dan amalan keagamaan seharusnya memberikan kekuatan jatidiri kepada pemimpin tersebut di dalam memimpin sesebuah organisasi terutama memacu kecemerlangan pendidikan di sekolah.

Selain itu, di antara ciri seorang pemimpin ialah berilmu pengetahuan yang luas.Ilmu tersebut merangkumi ilmu berteraskan ikhtisas pentadbiran pendidikan, psikologi, komunikasi serta pengetahuan semasa.Ilmu ikhtisas pentadbiran pendidikan amat penting bagi memastikan komuniti pendidikan dibawahnya seperti guru, kakitangan sekolah, serta murid dapat diurus dengan sempurna dan selaras dengan keperluan semasa di samping memenuhi aspirasi pendidikan negara.Manakala ilmu-ilmu kemanusiaan seperti psikologi dan komunikasi amat diperlukan oleh pemimpin di sekolah bagi memastikan layanan dan kemesraan yang diwujudkan sesama ahli komuniti berjalan dengan baik di samping dapat mengelakkan konflik.Sementara itu, pengetahuan yang luas tentang isu semasa bakal menjadikan minda pemimpin akan sentiasa mengikut peredaran zaman dan bersedia untuk menghadapi sebarang kemungkinan yang mendatang.Pemimpin bercirikan perkara di atas pastinya guru yang pakar di bidang pengurusan serta bidang profesionnya.

Di Antara ciri terpenting lain yang juga harus wujud di dalam diri pemimpin di sekolah ialah mereka harus mempunyai ketinggian peribadi.Ketinggian peribadi yang dimaksudkan dari segi tutur kata bukan sahaja dari santunan bahasa penuh hemah, malah mereka harus bijak untuk berkomunikasi dengan semua peringkat umur .Komen dan kritikan yang diberikan seharusnya bersifat membina bukannya merendah-rendahkan martabat seseorang.Ketinggian peribadi juga boleh diukur dengan tingkah laku yang merendah diri tetapi tegas, tidak sombong dan memberikan layanan kepada semua pihak tanpa memilih bulu dan penuh hikmah.Pemimpin jenis ini pasti manis air mukanya, bijak mengatur kata, penuh hikmah perlakuannya serta mempunyai jatidiri dan integriti yang tinggi.

Perkara di atas akan membawa kepada ciri seterusnya iaitu mempunyai pengaruh melalui tauladan.Pengaruh melalui tauladan diterjemahkan melalui contoh yang ditunjukkan oleh pemimpin berdasarkan apa yang diungkapkannya.Pemimpin ulung harus menunjukkan contoh tauladan kepada komuniti di bawahnya melalui perlakuannya yang mendahului yang lain dengan niat untuk diteladani oleh semua.Pemimpin berjiwa rakyat sebegini akan dipandang tinggi oleh komuniti pendidikan sebagai pemimpin yang mampu mengotakan janjinya melalui tauladan.Sebagai contohnya pemimpin yang ingin melihat kakitangannya datang awal ke tempat kerja pasti menonjolkan dirinya sebagai pemimpin yang datang lebih awal daripada yang lain.

Selain itu, pemimpin yang mempunyai ciri pemimpin budiman harus memiliki visi dan misi yang jelas di dalam membangun dan mentadbir sesebuah organisasi.Ini kerana dengan kemampuan untuk membentuk visi dan misi yang jelas, barulah mudah seseorang pemimpin itu untuk membawa komuniti yang dipimpinnya ke arah mercu yang direncanakannya.Contohnya, bagi pemimpin unit dan organisasi sekolah yang mempunyai visi dan misi yang jelas pasti berusaha membawa organisasi di bawah tanggungjawabnya untuk cemerlang dari segala aspek dan dicontohi oleh yang lain.

Bagi menjadikan pemimpin itu berkredibiliti tinggi , mereka harus mempunyai kemahiran membimbing yang effektif.kemahiran membimbing ini penting bagi tujuan memperkasakan diri individu yang dibimbing bertujuan mencapai sasaran kerja yang ditetapkan dengan jaya.Guru besar yang budiman harus mampu untuk membimbing kakitangannya bagi menjamin kelangsungan budaya kerja berkualiti .Guru-guru muda terutamanya yang baru mula bertugas terutamanya dibimbing agar cepat menyesuaikan diri di dalam sistem pendidikan dan dibantu perkembangan dirinya sebaik mungkin.Manakala guru senior pula yang mempunyai kepakaran berteraskan pengalaman dibimbing untuk terus kekal aktif terutamanya dalam menginovasikan proses pengajaran dan pembelajaran serta menggalakkan budaya kajian tindakan.

Pemimpin juga mesti sedar bahawa tugas mereka bukanlah mudah. Mereka juga dikenali dan terlibat sebagai pentadbir, pengurus, perancang, pelaksana, penilai, penyelia, pengawal dan sebagainya. Seseorang pemimpin hendaklah berupaya membuat keputusan yang terbaik bukan sahaja terbaik untuk dirinya sendiri tetapi terbaik kepada semua pihak yang lain. Ia juga hendaklah terbaik kepada orang-orang yang dibawah pimpinannya dan semua yang terlibat dengan keputusannya secara langsung ataupun tak lansung.Sebagai contohnya apabila seseorang guru besar telah mengenal pasti beberapa masalah disiplin yang dilakukan oleh seorang guru, haruslah disiasat dan diberi pertimbangan rapi berasaskan fakta dan bukti.Andainya wujudnya keraguan munasabah yang menepati tatacara tatatertib, maka pemimpin tersebut harus membuat keputusan berbentuk amaran, penggantungan kerja atau sebagainya.Ini bagi mengelakkan kesalahan tersebut menjadi barah lantas menimbulkan sesuatu yang tidak diingini.

Begitulah sedikit sebanyak bagaimana ciri-ciri pemimpin di sekolah dapat diterjemahkan melalui kupasan ringkas tetapi berinformasi di atas.Pemimpin di sekolah harus mempunyai ilmu dan kemahiran tinggi di dalam aspek memimpin organisasi di samping cemerlang dari sudut sahsiah dan peribadinya

Kepimpinan Pengetua Sekolah


KEPIMPINAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH
PENGENALAN
Seorang pentadbir di sekolah harus mempunyai suatu hala tuju Untuk mencapai matlamat melalui sebarang cara ataupun semua cara usaha yang dilakukan. Cabaran utama sektor awam dan sektor swasta ke arah pengisian dan pencapaian Wawasan 2020 ialah untuk memastikan segala perancangan jangka pendek dan jangka panjang kerajaan dapat dilaksanakan dan mencapai matlamatnya. Ini amat bergantung kepada keupayaan para pengurus dan pemimpin untuk mengurus dan memimpin sumber manusia yang terlibat. Ini adalah kerana kejayaan sesebuah organisasi bergantung kepada keupayaan dan kualiti sumber manusianya ke arah keberkesanan pelaksanaan segala perancangan yang dibuat.
DEFINISI
Kepimpinan
Menurut Fleishman (1973), kepimpinan adalah usaha ke arah pengaruh perseorangan yang diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian sesuatu matlamat. Hersey dan Blanchard (1977) pula menyatakan kepimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kumpulan dalam usaha mencapai matlamat dalam sesuatu tindakan.
Dalam konteks pendidikan, Campbell (1983) menyatakan kepimpinan ialah satu proses bagi seorang pengetua mendapatkan kerjasama kakitangan ke arah penyempurnaan matlamat tertentu.
Seterusnya menurut Katz dan Khan (1978 ) terdapat tiga perkara yang ditekankan dalam konteks kepimpinan iaitu kedudukan atau jawatan, sebgai peribadi seorang individu dan sebagai satu rangkaian tingkah laku yang tertentu.
Kepimpinan menurut Islam pula berteraskan konsep khalifah iaitu setiap manusia adalah pemimpin yang bertanggungjawab memimpin dirinya, keluarga dan ahli-ahli di bawahnya.
“ Kamu sekelian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinmu” ( Riwayat Bukhari Muslim).
KONSEP KEPIMPINAN DALAM PENDIDIKAN
Di sekolah, kepimpinan adalah satu aspek tingkahlaku dan juga sejenis pengaruh (Ramaiah 1999). Kepimpinan pengetua adalah bergantung kepada kedudukan formal dalam struktur organisasi sekolah. Kepimpinan jenis ini dinamakan kepimpinan formal. Jawatan pengetua diberi pengiktirafan dan status yang berwibawa dalam kedudukan organisasi sekolah sebagai ketua sekolah serta mempunyai kuasa atas segala aspek pengurusan sekolah. Apabila pengetua meninggalkan jawatan tersebut, status kepimpinan turut lenyap.
Dalam kontek kepimpinan dalam pendidikan, pengetua perlu melaksanakan dasar-dasar yang digubal oleh Kementerian dan Jabatan. Pengetua perlu memastikan bahawa semua dasar adalah jelas kepada semua anggota di sekolah, dan sebarang peraturan yang digubalnya mestilah bersesuaian atau berharmoni dengan dasar yang sedia ada di mana dasar-dasar ini adalah petunjuk arah serta kenyataan visi.
KEPIMPINAN PENGETUA DI SEKOLAH
Seorang pengetua yang memegang teraju di peringkat sekolah memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang tinggi berkaitan dengan pendidikan. Ia perlu mempunyai pengetahuan dalam bidang akademik, latar belakang murid dan masyarakat, masalah tingkahlaku pelajar dan kakitangan, kurikulum sekolah, pengurusan pejabat, konsep kepimpinan, hubungan komunikasi dan masalah politik semasa. Tanpa pengetahuan dalam bidang-bidang tersebut seorang pentadbir pendidikan akan merasa tidak yakin di atas keupayaan kepimpinannya. Jadi kepimpinan yang cekap adalah memainkan peranan yang penting di sekolah.
STAIL KEPIMPINAN PENGETUA
Agak sukar untuk menentukan jenis stail kepimpinan yang patut dilaksanankan di sekolah. Stail kepimpinan telah diperkenalkan oleh Max Weber, menurutnya terdapat tiga stail kepimpinan iaitu tradisional, birokratik dan karismatik.
Tradisional
Stail ini menunjukkan ciri-ciri pentadbiran yang autokratik. Stail ini dikaitkan juga dengan berpusatkan tugas, berpusatkan pengeluaran, pencapaian matlamat, pengenalan struktur, kepimpinan paksaan, Teori X dan juga kepimpinan paksaan. Pengetua/Guru Besar membuat keputusan seorang diri tanpa mengambilkira pendapat ahli lain dalam organisasi sekolah. Penglibatan guru-guru dalam membuat keputusan sangat sedikit. Walaupun pemimpin yang mengamalkan stail kepimpinan jenis ini dapat memastikan perlaksanaan tugas dengan sempurna, orang-orang bawahan yang diarahkan mungkin tidak mengetahui mengapa sesuatu itu dibuat (Ibrahim Mamat 1998). Ini akan menyebabkan semangat bekerja dan minat mereka lemah. Inisiatif dan kreativiti juga rendah. Walau pun begitu dalam keadaan kritis, stail tradisional adalah paling berkesan kerana keputusan yang tegas dan tepat diperlukan. Begitu juga situasi-situasi yang memerlukan kepakaran. Pengetua yang sepatutnya merupakan seorang pakar, mesti bersikap mengarah untuk membantu orang-orang bawahannya.
Birokratik
Stail birokratik berdasarkan barisan autoriti di mana tanggnugjawab dan peranan telah dijelaskan oleh pihak ketua. Ciri-ciri dalam stail kepimpinan ini ialah :
1. Kebanyakan keputusan dibuat oleh pihak ketua.
2. Kadang-kadang perancangan tanpa mengambil kira polisi yang telah ditentukan secara demokratik.
3. Kurang berlaku komunikasi dua hala.
4. Tidak mementingkan semangat kumpulan dalam perkerjaan.
5. Sesuatu tugasan merupakan paksaan.
6. Sukar mewujudkan kemersaan dalam suasana perkerjaan.
Krismatik
Ada unsur-unsur yang mengagumkan dan mistik. Kepimpinan jenis ini juga disebut sebagai keunggulan gelagat. Antara ciri-ciri kepimpinan ini ialah :
1. Menunjukkan bagaimana seseorang pemimpin itu berbeza-beza dengan orang lain dan ia boleh mempengaruhi pemimpin.
2. Mempunyai matlamat dan visi yang tinggi.
3. Boleh melaksanakan sesuatu aktiviti dengan cekap.
4. Boleh mempengaruhi pengikut secara tidak langsung walaupun tidak kesempatan untuk berkomunikasi dengan semua pengikut.
Menurut Ahmad Atory Hussain (1994), pemimpin berkarisma merujuk kepada kebolehan khusus seseorang pemimpin itu untuk memobilisasi dan meneruskan aktiviti-aktiviti organisasi melalui gabungan tindakan-tindakan serta sifat-sifat peribadi yang khusus.
Ada juga stail kepimpinan digolongkan sebagai autokratik, demokratik dan laissez-faire. Stail autokratik adalah bercorak tradisional. Mengikut stail autokratik, biasanya pemimpin memaksa kakitangan mengikut arahan, menjalankan sesuatu tugas tanpa perundingan terlebih dahulu.
Demokratik
Pemimpin yang mengamalkan ciri-ciri demokratik iaitu memberi pertimbangan terhadap pandangan ahli-ahli dalam organisasi. Di sekolah pengetua akan menyediakan maklumat-maklumat, mengesyorkan alternatif-alternatif, menggalakkan serta meningkatkan minat dan prestasi guru-guru. Sungguhpun pengetua yang demokratik sentiasa cuba untuk mempengaruhi guru-gurunya tetapi ia tidak mengongkong pemikiran dan perlakuan mereka. Selalu mengadakan rundingan dengan kakitangan sebelum membuat sesuatu dasar (keputusan bersama menjadi perkara penting). Kakitangan juga dapat berhubung dengan mudah untuk menyatakan sesuatu kepada ketua.
Ciri Kepimpinan Instrumental.
Kedua-dua Pengetua didapati mengamalkan juga ciri kepimpinan jenis ini yang menumpukan kepada kumpulan pengurusan, struktur dan proses pengurusan. Pemimpin jenis ini berusaha untuk membina kumpulan yang mempunyai daya saing yang kuat, memastikan kakitangan memahami tingkahlaku yang diperlukan dalam sesebuah organisasi.
Ciri Kepimpinan Transformasi.
Didapati kedua-dua pengetua mempunyai ciri kepimpinan Transformasi yang mengiktiraf, mengeksploitasi keperluan dan kehendak para pengikutnya. Bass (1990) menggambarkan pengetua yang mengamalkan kepimpinan transformasi ini sebagai memiliki prestasi dan keupayaan kepimpinan yang luar biasa. Mengikut Burns (1978) pemimpin yang mengamalkan ciri kepimpinan jenis ini juga melibatkan diri dengan orang lain melalui satu cara yang tertentu sehingga pemimpin dan pengikutnya dapat meningkatkan motivasi dan semangat bekerja ke satu tahap yang lebih tinggi.
Terdapat empat ciri utama yang memberi kekuatan kepada kedua-dua pengetua untuk menggerakkan guru-guru di bawahnya untuk mencapai matlamat yang telah dirancang. Ciri-ciri tersebut ialah berkarisma, memiliki inspirasi, memiliki pertimbangan kemanusiaan terhadap setiap individu dan memiliki stimulasi keintelektualan. Kepimpinan transformasi umumnya tidak terlalu berpaksi kepada pengaruh kekuasaan tetapi lebih kepada pengaruh personaliti yang menarik, sifat dalaman yang mantap dan ketrampilan semulajadi yang berasaskan keilmuan dan keintelektualan. Lebih daripada itu kepimpinan transformaasi ini didapati telah memberi kesan secara tidak langsung terhadap pencapaian akademik pelajar dikedua-dua buah sekolah.
PERANAN PENGETUA/GURU BESAR SEBAGAI PEMIMPIN DI SEKOLAH.
Mc Pherson dan Crowson (1987) menyatakan peranan seorang pengetua bertindan-tindih sebagai seorang guru, pengurus dan pemimpin. Walau apa pun pengetua tidak boleh melarikan diri daripada melaksanakan peranan utamanya dalam aktiviti pengajaran. Didapati kedua-dua pengetua mengajar subjek Pendidikan Moral di sekolah mereka.
Kedua-dua Pengetua juga berperanan sebagai pentadbir dan pengurus sekolah, kedua-dua pengetua juga bertanggungjawab terhadap kelicinan perjalanan di sekolah dan kemajuannya. Manakala sebagai pemimpin pendidikan-pengajaran mereka memberi kepimpinan, galakan, sokongan kepada guru dan pelajar dalam pengajaran dan pembelajaran. Dalam masa yang sama kedua-dua pengetua juga berusaha memimpin sekolah untuk mewujudkan persekitaran sosial yang sihat dan memberansangkan pengajaran dan pembelajaran.
PENGETUA/GURU BEASR SEBAGAI PEMIMPIN PENTADBIRAN
Barrow (1977) menyatakan kepimpinan pentadbiran ialah pola-pola tingkahlaku (secara relatif) yang bersekutu dengan kedudukan seseorang itu sebagai seorang pemimpin. Tingkahlaku ini adalah bertujuan untuk mempengaruhi atau mengarah individu atau kumpulan bagi mencapai tugasan dan objektif yang ditetapkan terlebih dahulu untuk organisasi. Dalam organisasi formal tingkahlaku ini adalah berkaitan dengan peranan-peranan formal seorang pemimpin itu.
Merujuk kepada kertaskerja Institut Aminuddin Baki bertajuk ‘Kepimpinan Pengetua Sekolah’ (1997) dhuraikan beberapa tugas pengetua sebagai pemimpin pentadbiran iaitu:
(a) Kewangan dan bekalan
Pengetua bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pengurusan kewangan. Pengetua perlu mempunyai pengetahuan yang mendalam dan jelas dalam pengurusan hal-hal kewangan sekolah dengan memastikan penggunaan wang secara optima. Pengetua perlu mengagihkan peruntukan kewangan bagi sekolahnya untuk memenuhi keperluan kurikulum, pembelian alat dan kelengkapan sekolah. Sebagai pemimpin juga , pengetua bertanggungjawab atas akaun dan kewangan sekolah seperti Buku Tunai dan Buku Suwa. Contohnya di bawah akaun kerajaan pengetua bertanggungjawab atas gaji guru-guru dan kakitangan lain di sekolah serta ‘perkapital Grant’ berdasarkan jumlah murid. Sementara di bahagian Buku Suwa pengetua mesti berkebolehan mendapatkan keuntungan dari tender-tender kantin, sewa dewan dan lain-lain lagi. Dalam menjalankan tugas yang dipertanggungjawabkan sebagai pengurus kewangan, kedua-dua pengetua terdedah kepada beberapa masalah yang boleh menjejaskan imej sebagai pemimpin pertadbiran sekolah. Antara faktornya ialah kerana kedua-dua Pengetua tidak mendapat pengetahuan dan latihan secara formal berkaitan dengan pengurusan kewangan, Pengetua kurang arif tentang prosedur urusan kewangan dan Pengetua menyerahkan tugas kewangan sepenuhnya kepada pembantu pegawai kewangan (kerani sekolah).

(b) Pembangunan Fizikal
Sebagai pemimpin, kedua-dua pengetua juga berperanan mengetahui keperluan fizikal untuk memenuhi segala kehendak kurikulum. Peranan utama mereka ialah memastikan wujud bilik darjah yang beriklim selesa seperti saiz bilik darjah dan ketinggian kerusi meja yang sesuai.
(c) Penyebaran maklumat
Tugas pentadbiran pengetua juga dilihat dari segi kebolehannya menyebarkan maklumat-maklumat tertentu kepada guru-guru, kakitangan, ibubapa dan masyarakat setempat mengenai ordinan-ordinan pelajaran, buku panduan sekolah dan surat-surat pekeliling seperti pakaian dan dan persatuan.
(d) Perkembangan kakitangan
Kedua-dua Pengetua juga dapat mengawal dan mendorong supaya wujud suasana kerjasama di kalangan guru dan kakitangan. Andrew dan Soder (1987) menyatakan pemimpin pentadbiran mengambil tindakan mengarah staf, menggunakan sumber-sumber yang ada di sekolah masing-masing supaya visi dan matlamat sekolah dapat dicapai.
Di samping itu, mereka juga berkebolehan mewujudkan kesesuaian sekolahnya dengan persekitaran. Menurut Dwyer (1984) pengetua harus bertindak balas terhadap masalah dari dalam dan luar sekolah di samping menyelesaikan gangguan-gangguan pembelajaran yang wujud hampir setiap hari. Selain daripada itu sebagai pemimpin, kedua-dua pengetua telah memastikan urusan pentadbiran lain seperti menyimpan rekod, mengesan dan mengumpul maklumat, merangka peraturan dan prosedur, menjadual dan mengagihkan tugasan guru, berhubung dengan ibu bapa, membuat belanjawan dan mengagih sumber.
Sebagai pemimpin pentadbiran, kedua-dua pengetua lebih cenderung untuk menumpukan perhatian serta menjalankan undang-undang atau peraturan. Mereka juga mengharapkan orang bawahan mematuhi undang-undang dan peraturan tersebut. Ini bertujuan untuk menjaga dan mengekalkan disiplin kerja sebagai satu alat bagi mencapai matlamat sekolah.
Mengikut Leithwood dan Montgomery (1986) dalam Hussein (1993b), fokus pengetua yang bertingkahlaku sebagai pentadbir lebih bertumpu kepada aktiviti-aktiviti rutin organisasi sekolah itu sendiri dan bukan kepada pelajar. Bagi pengetua jenis ini pencapaian matlamat pengajaran adalah tanggungjawab guru. Ini kerana ia berpegang kepada falsafah bahawa guru mengajar manakala pengetua menjalankan pentadbiran sekolah. Pengetua SMK Yaacob Latif juga berperanan sebagai pentadbir untuk membuat keputusan dengan cara autokratik dan proses dalam membuat keputusan ini adalah reaktif. Ia bagi menyelesaikan sesuatu masalah yang dihadapi.
Kedua-dua pengetua juga mengetahui tentang aspek-aspek penilaian, penyeliaan guru dan bukan semata-mata tentang pentadbiran pengajaran. Kajian yang dijalankan oleh Smith & Donna M (1995) terhadap ‘Constraints on the effecticeness of school and their principals’ di Alberta mendapati kekangan-kekangan yang kerap disenaraikan oleh pengetua ialah kekurangan peruntukan, diikuti dengan masa yang banyak diperuntukkan untuk menyelesaikan masalah pelajar dan kekurangan kemudahan. Pengetua yang berperanan sebagai pemimpin pentadbiran yang lebih berkesan berorientasikan dalaman. Ini kerana pengetua jenis ini lebih menitikberatkan masalah yang terdapat dalam sekolah itu sendiri.
PENGETUA SEBAGAI PEMIMPIN PENGAJARAN
Glasman (1984) dalam Hussein Mahmood (1993) menghuraikan kepimpinan pengajaran sebagai tingkahlaku pengetua yang mendorong pengajaran dan pembelajaran di sekolah dengan matlamat akhirnya untuk mempertingkatkan prestasi akademik murid. Sementara Greenfield (1987) pula menjelaskan konsep kepimpinan pengajaran sebagai tindakan- tindakan yang diambil oleh pengetua dengan niat untuk mempertingkatkan keadaan pembelajaran yang produktif dan dikehendaki bagi kanak-kanak.
Kedua-dua Pengetua mempunyai pengetahuan, kemahiran dan kepakaran teknikal berkaitan dengan pendidikan yang meliputi tugas-tugas menetapkan matlamat, kurikulum dan pengurusan sumber fizikal. Mereka juga menjalankan tugas-tugas seperti merancang, mengorganisasi, mengawal dan menyelaras, pengagihan tugas; penilaian pengajaran dalam bilik darjah dan penyelenggaraan sumber fizikal sekolah. Peranan sebagai pemimpin pengajaran dan kurikulum ini juga meliputi pelbagai tugas termasuk penyeliaan dan cerapan serta penilaian pengajaran pembelajaran di bilik darjah.
Konsep kepimpinan pengajaran mempunyai andaian bahawa seorang pengetua atau pemimpin pengajaran boleh dan berupaya mengubah persekitaran pembelajaran di sekolah. Antara ciri-ciri utama pemimpin pengajaran ialah mereka memberi perhatian berat kepada kebajikan pelajar. Mereka adalah pembaharu yang mengekalkan matlamat asas dan memperbaiki pembelajaran pelajar dan pada masa yang sama meneroka kaedah-kaedah pengajaran baru. Didapati kedua-dua pengetua sekolah tersebut mempunyai ciri-ciri seperti yang dinyatakan.
Seorang pengetua boleh mempengaruhi prestasi pengajaran guru dan pembelajaran pelajar dengan menggalakkan pengambilan norma-norma institusi yang mendorong pembentukan sikap positif dan kerjasama antara guru. Kedua-dua Pengetua sebagai pemimpin pengajaran memahami setiap aspek kurikulum dengan terperinci supaya boleh membuat perancangan menyeluruh serta memastikan segala yang dirancang dapat dijalankan dengan licin. Selain itu mereka harus memahami dasar dan sistem pendidikan khasnya kehendak dan keperluan kurikulum dari segi matlamat, kandungan, bahan, guru, murid, bilik darjah serta srtategi pengajaran, penyeliaan dan penilaian.
Pemimpin sebagai perekabentuk mereka bentuk visi, matlamat dan nilai utama yang dikongsi bersama oleh semua anggota. Sebagai pengajar pemimpin berfungsi sebagai pakar yang sentiasa memperbetulkan pandangan organisasi terhadap realiti iaitu bertindak dan sebagai fasilitator. Pada dasarnya pengetua kedua-dua sekolah menyedari bahawa salah satu daripada peranan yang perlu dilakukan oleh mereka ialah menjadi pemimpin pengajaran di sekolahnya.
Di Malaysia kepimpinan pengajaran mungkin lebih rumit memandangkan adanya masalah-masalah unik seperti kekurangan guru, guru-guru yang tidak mempunyai opsyen yang sesuai dan saiz kelas yang besar. Akibatnya pengetua menjadi keliru untuk memainkan peranan mereka sebagai pemimpin pengajaran. Selain daripada itu keberkesanan pengajaran bukan merujuk kepada prestasi dan keberkesanan pengajaran seorang guru sahaja. Yang lebih rumit ialah memotivasikan semua kakitangan ke arah kecemerlangan dan keberkesanan pengajaran dan pembelajaran.. Weber (1989) menyatakan kepimpinan pengajaran ialah satu proses yang dinamik dan ia adalah usaha jangka panjang terhadap kecemerlangan.
Pengetua Dalam Kepimpinan Pengajaran.
Terdapat beberapa ciri penting yang diperlukan pengetua bagi menjalankan kepimpinan pengajaran dengan cara yang berkesan. Aspek itu ialah sikap, pengetahuan dan kemahiran pengetua. Seorang pengetua tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya dengan berkesan jika dirinya tidak mempunyai cukup pengetahuan, kemahiran dalam bidang atau tugas yang hendak disempurnakannya. Prestasi pengetua dalam kepimpinan pengajaran merupakan penggunaan pengetahuan dan kemahiran yang relevan yang dimilikinya dan ditunjukkan atau dilakukan menerusi tindakan atau tingkahlakunya.
Kedua-dua pengetua perlu mempunyai kebolehan mewawasankan sekolahnya. Wawasan ini akan memberi panduan bagi tindakan-tindakan yang akan diambil oleh pengetua. Kebolehan untuk menetapkan misi dan wawasan sekolah merupakan keperluan yang semestinya ada pada pengetua sekolah untuk mencapai matlamat.
Pengetua kedua-dua sekolah mahir dalam tugasan pengajaran. Ini bermakna kemahiran dan kecekapan dalam kandungan kurikulum, pemilihan jenis penilaian kurikulum dan aktiviti pembelajaran, kaedah pengajaran dan pengurusan kelas yang berkesan dikatakan syarat penting untuk melaksanakan peranan sebagai pemimpin pengajaran. Seorang pengetua dikatakan harus berpengetahuan dan berkemahiran dalam perkembangan atau kemajuan kurikulum serta berkebolehan dalam meningkatkan mutu pengajaran di sekolahnya. Oleh itu program latihan untuk para pengetua perlu menekankan kemahiran dalam kurikulum. Pengesanan dan penilaian pula perlu dilakukan untukl oleh pengetua supaya suatu piawaian yang hendak dicapai oleh sekolah dapat dicapai.. Untuk itu pengetua harus berkemahiran dalam dalam pengesanan dan penilaian prestasi, penilaian kurikulum dan pengajaran, pengujian dan penilaian pendidikan dan pembinaan kaedah penilaian dan alat-alatnya. Penyeliaan pula bertujuan untuk memperbaiki pengajaran.. Penguasaan pengetahuan dan kemahiran teknikal khusus dalam bidang kurikulum pengajaran, pengesanan dan penilaian serta hubungan manusia menyumbang kepada kecekapan menyelia.
Kedua-dua pengetua tersebut didapati cekap dalam hubungan manusia iaitu hubungan personal dan komunikasi dalam pengurusan. Kemahiran ini amat penting dalam kepimpinan pengajaran kerana pengetua perlu berinteraksi dan meminpin ahli-ahli yang sama di dalam dan di luar kelas. Kemahiran komunikasi yang diperlukan pengetua meliputi kemahiran dalam menyuruh, memotivasi dan berunding dengan orang lain.
Sikap memandu tingkahlaku. Dalam kajian sekolah berkesan, para pengetua yang dilabelkan sebagai pemimpin pengajaran mempunyai sikap positif terhadap pembelajaran pelajar. Mereka mempercayai bahawa setiap pelajar boleh belajar dan boleh diajar.
Kajian-kajian mengenai sekolah berkesan menyarankan bahawa pengetua sekolah seharusnya berperanan sebagai pemimpin pengajaran (instructional leaders) kerana kepimpinan pengajaran dapat menghasilkan pembelajaran yang berkesan (Cawelti 1980) dan prestasi akademik yang cemerlang. Ertinya jika pengetua memainkan peranannya sebagai pemimpin pengajaran di sekolahnya maka proses pengajaran dan pembelajaran yang berkesan di bilik darjah akan berlaku. Kajian –kajian sekolah berkesan menghuraikan tingkahlaku-tingkahlaku kepimpinan pengetua yang dikatakan berkesan, iaitu tingkahlaku-tingkahlaku yang positif yang mendorong ke arah berlakunya proses pengajaraan pembelajaran yang berkesan yang seterusnya mempengaruhi prestasi murid untuk menjadi baik. Tingkahlaku-tingkahlaku ini termasuklah;
(a) Mengutamakan pencapaian prestasi murid.
(b) Menetapkan strategi-strategi pengajaran yang berkaitan dengan pencapaian prestasi murid.
(c) Mewujudkan suasana pembelajaran yang teratur dan baik.
(d) Sentiasa menilai pencapaian murid.
(e) Menyelaras program pengajaran pembelajaran.
(f) Memberi sokongan kepada guru.
Pengetua yang berfungsi sebagai pemimpin pengajaran yang berkesan dapat memberi galakan dan dorongan yang kuat kepada guru untuk merancang dan melaksanakan tugas pengajaran. Cooperman (1994) dalam kajiannya The Principal : An Educational Leader menekankan terdapat tiga perkara asas yang mesti dilaksanakan oleh pengetua untuk mempertingkatkan pembelajaran di sekolah iaitu:
(a) Disiplin - iaitu mewujudkan iklim pembelajaran.
(b) Kursus-kursus yang diajar – terangkan dengan jelas apa yang akan diajar.
(b) Penyeliaan pengajaran - mempastikan apa yang perlu diajar telah diajar dengan baik.
PENUTUP
Kesimpulannya, kedua-dua pengetua telah mewujudkan persekitaran pembelajaran di sekolah. Kepimpinan pendidikan secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi pengajaran dan pembelajaran malahan pemupukan kebolehan guru serta membentuk dan menyelaras daya usaha guru. Yang penting pengetua mesti memainkan fungsi pengajaran (Edmond 1979, Ubbens dan Hughes (1997).
Sistem pendidikan negara telah mengalami perubahan selaras dengan perkembangan negara dalam aspek pembangunan, sosial, ekonomi dan budaya. Sehubungan dengan itu peranan dan tanggungjawab pengetua juga telah mengalami perubahan dari semasa ke semasa dan mereka perlu berusaha mengubahnya mengikut masa dan situasi.

Monday, 11 February 2013