Translate

Sunday, 20 January 2013

Linguistik Moden


(a) Linguistik Abad 19
Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:
1.      Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2.      Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3.      Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4.      Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5.      Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6.      Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7.      Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8.      Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9.      Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10.  Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11.  Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12.  Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13.  Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Ciri linguistik abad 19 sebagai berikut:
1)      Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.
2         Bidang utama penelitian adalah linguistik historis komparatif. Yang diteliti adalah hubungan kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
3)    Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, misalnya penelitian tentang kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.

(b) Linguistik Abad 20
Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:
1)      Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.
2)  Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada akhir abad 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.
3)    Tata bahasa merupakan bagian ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar dapat dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.
4)      Penelitian teoretis sangat berkembang.
5)      Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.
6)      Prinsip dalam meneliti adalah deskripsi dan sinkronis
 Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
(1)    Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
(2)   Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik   bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
(3) Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
(4)   Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
(5)   Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
(6)   Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.
(7) Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
(8)  Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.
Gerakan strukturalisme dari Eropa ini berpengaruh sampai ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada abad 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para ahli Eropa dengan nama deskriptivisme. Para ahli linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada masalah bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan agar supaya para ahli linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).
Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.
Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.
Pemikiran Sapir berpengaruh pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.
Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu.
Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.
            Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).
            Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.

Penulisan Dalam Bahasa Melayu



5.1 Ayat

Ayat ialah unit pengucapan / tulisan paling tinggi letaknya dalam susunan tatabahasa dan mengandungi makna yang lengkap.Ayat mengandungi unsur klausa, unsur frasa dan perkataan. Terdiri daripada subjek dan predikat.

5.2 Binaan Ayat

Subjek dan predikat ialah dua bahagian yang mesti ada dalam setiapayat. Subjek ialah suatu binaan yang menjadi hal atau judul percakapan atau penulisan, dan predikat pula ialah suatu binaan yang menerangkan perkara tersebut.

Subjek
Predikat
Mirnawan Nawawi
pemain hoki berbakat di Malaysia
Penyair itu
sedang mendeklamasikan sajak

5.3 Golongan Ayat

5.3.1 Ayat Tunggal

Ayat tunggal atau ayat dasar, juga disebut ayat inti atau ayat mudah mengandungi satu klausa, iaitu hanya ada satu subjek dan satu prediakt. Contoh ayat tunggal adalah seperti yang berikut:

 i.            Dia / membaca akhbar itu.
ii.            Ayah Hafiz / seorang kontraktor.

5.3.3 Pola Ayat Dasar

Ada empat pola ayat dasar dalam bahasa Melayu, iaitu:

POLA
CONTOH AYAT
Subjek + Predikat

1. Frasa Nama + Frasa Nama

2. Frasa Nama + Frasa Kerja


3. Frasa Nama + Frasa Adjektif

4. Frasa Nama + Frasa Sendi

Subjek / Predikat

Guru saya / Encik Zainal Abidin

Anak kecil itu / sedang mengaji Al-Quran

Pelajar itu / sangat rajin

Dia / dari Gombak

5.4 Jenis-jenis Ayat

Berdasarkan lagu bahasa dan tujuannya, ayat-ayat bahasa Melayu boleh dibahagikan kepada empat jenis atau ragam sepert rajah dibawah:

5.4.1 Ayat Penyata

Ayat penyata ialah ayat yang diucapkan dengan maksud untuk membuat satu pernyataan. Ayat jenis ini juga disebut ayat berita atau ayat keterangan, seperti dalam contoh-contoh berikut:
          Za’ba tokoh agung bahasa Melayu.
          Setiap 1 Syawal, umat Islam akan merayakan Aidil Fitri.
          Shafiq sedang menguruskan perniagaan komputer milik bapanya.

5.4.2 Ayat Perintah

Ayat perintah ialah ayat yang diucapkan dengan tujuan untuk menimbulkan sesuatu tindakan. Perintah ditujukan kepada orang kedua. Ayat perintah boleh dibahagikan kepada empat jenis iaitu:
5.4.2.1 Ayat Suruhan

Ayat yang diucapkan dengan tujuan memberi perintah atau arahan. Dalam ayat suruhan subjek biasanya digugurkan, tetapi untuk tujuan penegasan, subjek boleh juga diucapkan. Contoh ayat suruhan adalah seperti berikut:
                                      Pergi dari sini!
                                      Keluar dari bilik ini.
                                      Baca cerpen itu sekarang.
                                      Pujuk kanak-kanak itu.

5.4.2.2 Ayat Larangan

Ayat larangan ialah ayat yang menggunakan kata larangan seperti jangan, usah atau tak usah sebelum kata kerja dengan tujuan menegah seseorang daripada melakukan sesuatu, seperti dalam contoh di bawah:
                   Jangan ambil harta orang.
                   Usah dikenang lagi perkara itu.
                   Tak usah datang lagi.
                   Kamu jangan beritahu dia.

5.4.2.3 Ayat Silaan

Ayat silaan biasanya menggunakan kata silaan seperti sila atau jemput sebelum kata kerja dengan tujuan menjemput atau mempersilakan seseorang seperti dalam berikut:
                   Sila datang ke pejabat saya.
                   Sila buat laporan di sini.
                   Jemput datang ke majlis kenduri anak kami.
                   Jemput masuk ke café kami.

5.4.2.4 Ayat Pemintaan

Ayat permintaan ialah ayat yang menggunakan perkataan minta dan tolong dengan tujuan memohon permintaan dan pertolongan seperti dalam caontoh berikut:
                   Minta tuan benarkan kami masuk.
                   Minta kamu semua bertenang.
                   Tolong hantarkan jawapan anda segera.
                   Tolong selesaikan masalah ini.

5.4.3 Ayat Tanya

Ayat tanya digunkan utnuk tujuan menanyakan sesuatu hal. Ayat tanya dapat digolongkan kepada empat jenis iaitu:

5.4.3.1 Ayat Tanya Tanpa Kata Tanya

Ayat tanya tanpa kata tanya lazimnya diucapkan dengan nada suara meninggi di akhir ayat, seperti dalam contoh di bawah:
                   Puan Salmah suri rumah?
                   Mereka masih di dalam gua?
                   Amri menjadi pelukis?

5.4.3.2 Ayat Tanya Dengan Kata Tanya

Ayat tanya dengan kata tanya ialah ayat tanya yang menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, berapa, bila, bagaimana, di mana, dan sebagainya. Contohnya adalah seperti yang berikut:
                   Apa (kah) benda itu?
                   Siapa (kah) gurunya?
                   Berapa (kah) harga sebuah telefon bimbitnya?

5.4.3.3 Ayat Tanya Terbuka

Ayat tanya terbuka ialah ayat tanya yang jawapannya tidak terhad kepada ya atau tidak sahaja.
                   Gurunya siapa?
                   Dari mana (kah) mereka datang?
                   Bila (kah) kita hendak berehat?

5.4.3.4 Ayat Tanya Tertutup

Ayat tanya tertutup ialah ayat tanya yang jawapannya ya atau tidak / bukan sahaja.
                   Encik Razali askar (kah)?
                   Lisa (kah) yang menangis?
                   Sakit (kah) kanak-kanak itu?

5.4.4 Ayat Seruan

Ayat seruan ialah ayat yang diucapkan dengan tujuan melahirkan sesuatu keadaan perasaan seperti takut, marah, takjub, geram dan sebagainya. Biasanya di akhiri dengan tanda seruan (!) di akhir ayat, sama ada didahului dengan kata seru atau tidak. Kata seru yang seirng digunakan seperti oh, amboi, wah, cis, syabas dan sebagainya.
                             Oh, Tuhanku!
                             Wah, besarnya rumah abang!
                             Cis, berambus engkau dari sini!
                             Syabas, awak telah dinaikkan pangkat!

5.5 Ayat Majmuk

Ayat majmuk ialah ayat terbitan yang terdiri daripada dua ayat atau lebih ayat tunggal. Percantuman ayat-ayat tunggal itu dibuat dengan cara tertentu, antaranya dengan menggunakan kata hubung, kata fakta ‘bahawa’, kata relatif ‘yang’, tanda koma dan tambahan keterangan.
                   Ayat majmuk mempunyai lebih daripada satu subjek dan / atau predikt dans eirng diiringi keterangan. Ayat-ayat majmuk boleh dikelaskan kepada beberapa jenis berdasarkan cara pembentukannya. Bentuk ayat-ayat majmuk adalah seperti berikut:

5.5.1 Ayat Majmuk Gabungan

Ayat majmuk gabungan ialah ayat yang terdiri daripada dua ayat atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung atau hentian nada suara sebagai penanda. Ayat-ayat tunggalnya boleh berdiri dengan sendirinya dan daripada jenis yang sama.

Menulis dan melukis menjadi kegemarannya.
Pegwai itu nampak bengis tetapi dia sangat peramah.
Ammar berdiri tegak, memandang hadapan, terus ke masjid.




5.5.2 Ayat Majmuk Pancangan

Ayat yang terdiri daripada satu ayat induk dan satu atau beberapa ayat kecil lain yang dipancangkan atau menjadi sebahagian daripada ayat induk itu. Terdapat tiga bentuk ayat majmuk pancangan.

5.5.2.1 Ayat Majmuk Pancangan Relatif

Ayat relatif biasanya dikenal dengan penggunaan perkataan ‘yang’ yang memancangkan ayat kecilnya dan menggantikan bahagian frasa yang berulang.

Rakyat Afghanistan yang menderita itu sudah diberi bantuan.
*Rakyat Afghanistan sudah diberi bantuan (ayat induk).
*Rakyat Afghanisatan menderita (ayat kecil).

1.           Perompak yang menembak polis itu telah ditangkap.
2.           Orang yang rajin berusaha selalunya akan berjaya.
3.           Amin memakai songkok yang dijahit oleh Pak Samad.

5.5.2.2 Ayat Majmuk Pancangan Komplemen

Ayat komplemen ialah sebahagian ayat dalam binaan ayat majmuk yang berfungsi sebagai ulasan yang melengkapkan ayat tersebut. Kata hubung komplemen seperti ‘bahawa’ ‘untuk’ dan ‘demi’ digunakan untuk memancangkan ayat komplemen.

1.           Dia sudah mengetahui bahawa anaknya mendapat tempat di UIAM.
2.           Sungguh mustahil untuk pengganas bertapak di negara Malaysia.
3.           Dia sanggup melakukan apa sahaja demi melihat anaknya berjaya.

5.5.2.3 Ayat Majmuk Pancangan Keterangan

Ayat keterangan ialah ayat majmuk yang terdiri daripada satu ayat induk dan satu ayat kecil atau lebih yang berfungsi sebagai keterangan kepada predikat. Contoh kata hubung yang digunakan ialah ‘ketika’, ‘semoga’ ‘kerana’, ‘semasa’, ‘dengan’ dan ‘sungguhpun’.

1.           Kakak selalu berdoa semoga kami semua selamat.
2.           Mereka ke Mekah dengan menaiki kapal layar.
3.           Sungguhpun badannya letih Rahman tetap menghadiri majlis tahlil itu.

5.5.2.4 Ayat Majmuk Campuran

Ayat majmuk campuran ialah ayat yang mengandungi lebih daripada satu jenis ayat, iaitu yang terdiri daripada campuran ayat tunggal dengan ayat majmuk atau deretan berbagai-bagai jenis ayat majmuk. Ayat demikian biasanya panjang seperti dalam contoh-contoh berikut:

1.           Aishah sedang membaca buku, tetapi kawan-kawannya sudah letih dan
       telah lama tidur.
2.           Kanak-kanak itu tersenyum kepada saya sambil menghulurkan
       tangannya untuk bersalam, dan saya juga menghulurkan tangan saya         
       untuk bersalam dengannya.
3.           Semua pelajar sedar bahawa peraturan-peraturan itu penting dan
       mereka menyedari bahawa walaupun mereka tidak senang hati
       dengannya, peratutan-peraturan itu mesti dipatuhi.

5.5.2.5 Ayat Majmuk Pasif

Ayat jenis ini boleh dibina jika wujud bentuk yang mengandungi kata kerja transitif. Pastikanlah supaya hanya bentuk pasif yang betul digunakan.

1.           Kami ditegur oleh pensyarah itu kerana tertidur dalam bilik kuliah.
2.           Komputer ini sering digunakan oleh pelajar ketika membuat kerja kursus.
3.           Kajian yang rumit itu dijalankan di sebuah makmal kuliah kejuruteraan UIAM.

Apabila membentuk ayat majmuk, beberapa perkara perlu diberi perhatian. Antaranya termasuklah penggunaan kata hubung yang tepat, peletakan tanda koma yang betul, dan penggunaan penanda komplemen ‘bahawa’ dan kata relatif ‘yang’ yang sesuai. Kesilapan dalam hal-hal ini boleh menimbulkan makna yang berlainan daripada yang sepatutnya, dan tidak kurang juga menyebabkan kesalahan tatabahasa.
Walaupun ada kecenderungan bagi kita untuk membina ayat majmuk yang kompleks dan berlapis, haruslah diingat bahawa ayat yang sederhana dan ringkas lebih baik. Ayat yang kompleks dan berlapis biasanya panjang, berbelit-belit dan sering kali sukar difahami.

5.6 Ayat Pasif

5.6.1 Ayat pasif ialah ayat yang mengutamakan objek asal (iaitu objek dalam   ayat aktifnya) sebagai perkara atau unsur yang diterangkan, manakala        subjek asalnya tidak diutamakan. Contohnya:
                         i.            Dia menyediakan laporan itu.             (Ayat Aktif)
                       ii.            Laporan itu disediakan olehnya.                   (Ayat Pasif)


5.6.2 Ayat Pasif dengan Kata Kerja Berimbuhan ‘di’ dan ‘ter’

                         i.            Mereka ketinggalan komuter.
                       ii.            Bajunya berjahit dengan benang sutera.
                    iii.            Surat awak belum berjawab lagi.

5.6.3 Ayat Pasif dengan Kata Ganti Nama Orang Pertama dan Kedua

                         i.            Kertas kerja itu sudah saya siapkan semalam.
                       ii.            Persetujuannya harus awak sampaikan dengan segera.
                    iii.            Beban ini akan kita tanggung bersama-sama.

5.7 Ayat Songsang

Ayat dalam bahasa Melayu, selain wujud dalam susunan biasa, ayat boleh juga hadir dalam susunan songsang melalui proses pendepanan predikat. Dalam susunan ayat songsang unsur-unsur dalam konstituen prediakt yang biasanya hadir selepas predikat dipindahkan ke hadapan subjek. Unsur-unsur yang dikedepankan itulah yang hendak diberi penegasan, iaitu melalui proses pendepanan, seperti yang berikut:

5.7.1 Pendepanan Seluruh Predikat

                   Baik sungguh perangai budak itu.
                   Sangat rajin perempuan tua itu.
                   Tidak berguna lagi penyesalannya.
5.7.2 Pendepanan Sebahagian Predikat

          Pendepanan FK
                   Berkejar-kejaran kanak-kanak itu di padang.
                   Terpaut hatiku oleh keimanannya.
                   Membuka perniagaan baru Encik Amrie tahun ini.

          Pendepanan FA
                   Lesu badannya sepanjang masa.
                   Masih teguh lagi binaan surau itu.
                   Lumpuh pesakit itu dengan tiba-tiba.

          Pendepanan FS
                   Untuk ibu doa ini.
                   Di Kuala Lumpur dia sekarang.
                   Kepada pekerjanya arahan itu.

Kesimpulannya ayat-ayat bahasa Melayu mempunyai unsur-unsur keunikan serta kelainan khususnya dari segi binaan, pola, jenis, ragam, bentuk dan susunan.

5.8 Klausa

Klausa ialah unit rangkaian perkataan yang mengandungi subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi ayat. Sebagai konstituen dalam pembentukan ayat, klausa terbahagi kepada dua jenis, iaitu klausa bebas dan klausa tak bebas (terikat).
Klausa bebas ialah klausa yang boleh beridiri sendiri dan boleh bersifat sebagai ayat yang lengkap apabila diucapkan dengan intonasi yang sempurna atau ditulis dengan kaedah yang betul. Sebaliknya klausa terikat tidak dapat berdiri sendiri.
Lihat contoh yang berikut ini:
                   dia berjaya                               Dia berjaya
                   (Klausa bebas)                         (Ayat)
                  
          kerana anda tekun berusaha             Kerana anda tekun berusaha
                   (Klausa terikat)                       (Bukan ayat)

Klausa bebas dengan sifatnya sebagai ayat yang sempurna boleh juga menjadi sebahagian daripada ayat yang lebih luas dan kompleks seperti:
                   anda berjaya                            kerana anda tekun berusaha
                   (Klausa bebas)                       (Klausa terikat)

                   menjadi

                   Anda berjaya kerana anda tekun belajar

5.9 Subjek

5.9.1 Frasa Nama

Secara amnya, dalam bahasa Melayu, Frasa Nama (FN) sahaja yang dapat berfungsi sebagai subjek ayat.

Contoh Ayat
Subjek
       i.            Buku itu mahal harganya.
     ii.            Malaysia Negara berbilang kaum.
  iii.            “Negaraku” ialah lagu kebangsaan kita.
  iv.            Kenangan sering mengusik jiwa.
     v.            Pukulannya sungguh kuat.
Buku itu
Malaysia
Negaraku
Kenangan
Pukulan


5.9.2 Kata Ganti Nama, Kata Kerja dan Kata Adjektif

Subjek boleh juga terbentuk dariapada kata ganti nama dan kata kerja atau kata adjektif yang berfungsi sebagai Kata Nama.

a.           Kata Ganti Nama

Contoh Ayat
Subjek
       i.            Saya mempengerusikan majlis tersebut.
     ii.            Beliau akan menulis novel.
  iii.            Ini makmal kami.
saya
beliau
ini


b.           Subjek Kata Kerja dan Adjektif

Contoh Ayat
Subjek
       i.            Memasak menjadi kegemarannya.
     ii.            Bercakap memang mudah.
  iii.            Merah lambang keberanian.
  iv.            Lemah lembut sifat orang Timur.
memasak
bercakap
merah
lemah lembut